Minggu, 29 Januari 2012

Arti Mandiri bagi Remaja Muslimah


muslimah mandiri “La an yahtathiba ahadukum huzmatan ‘ala dhohrihi khoirun man an yas-ala ahadan fa yu’tiyahu au yamna’ahu “. Hadits Riwayat Imam Bukhori Kitabul Buyu’ hal.75
Niscaya jika salah satu dari kalian mencari satu bongkok (kayu) di atas punggungnya itu lebih baik daripada minta kepada orang lain, maka orang itu memberinya atau mencegahnya ( tidak memberi).

Pada masa sekarag ini dimana perkembangan peradaban manusia sudah demikian maju, manusia semakin mengalami problema yang semakin komplek. Sebagai konsekuensi logisnya adalah tantangan yang dihadapi dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan juga semakin syarat.
Di sisi lain, karena tidak mampu bersaing banyak orang yang jatuh ke jurang kemiskinan, mereka terpaksa melakukkan pekerjaan rendahan, tidak jarang ada juga yang menggadaikan akidahnya untuk sekedar bertahan melangsungkan kehidupannya. Sementara bermunculan golongan orang yang dapat menguasai orang lain dengan perbedaan tingkat ekonomi yang sangat tajam. Golongan ini dapat saja melakukan tekanan (pressure) sehingga dapat membahayakan keimanan orang yang tertekan.
Orang yang tadinya berada pada kondisi finansial yang sangat mapan tiba-tiba dalam waktu relatif singkat berubah menjadi melarat, ada juga orang-orang miskin yang kemudian berkembang menjadi orang kaya baru (OKB). Gejala yang demikian seolah sebagaimana fenonema “cokro manggilingan kehidupan” , namun di balik itu sebenarnya ada sesuatu hal yang perlu mendapat perhatian , yaitu KEMANDIRIAN DIRI dari orang-orang tersebut dalam mengantisipasi berbagai tantangan kehidupan.
Dari itulah sejak dini perlu dikembangkan sikap mandiri bagi remaja kita. SIKAP MANDIRI ini semestinya terus mendapatkan perhatian yang serius secara kontinyu, dikondisikan , sehingga pada saatnya akan membeku menjadi WATAK MANDIRI yang merupakan modal ampuh guna menghadapi tantangan kehidupan. Kemadirian remaja muslim tidak saja diharapkan untuk dapat memperoleh kelayakan hidup di dunia , namun lebih dari itu dengan bekal ekonomi yang memadai akan menunjang kemudahan dalam merintis kebahagiaan hidup di akhirat.
Orang yang berada pada ekonomi sulit biasanya akan cenderung segera bangkit sebagai reaksi atas keterbatasan kesejahteraan yang ada padanya. Mereka tidak segan melakukan apa saja demi menghasilkan uang, bahkan dikerjakan tanpa mengenal waktu. Situasi dan kondisi ekonominya akan memberikan gemblengan menjadikan insane yang selektif dan hemat dalam pengeluaran pembelanjaan.
Mereka lebih terbiasa dan mampu mangatasi berbagai kesulitan hidup, sebagai dampak positifnya mereka cenderung menjadi lebih cepat memiliki sikap mandiri daripada anggota keluarga yang tumbuh dalam keadaan ekonomi yang serba kecukupan.
Kebiasaan dalam keluarga juga dapat berpengaruh terhadap sikap kemandirian seseorang. Banyak orang tua yang telah mampu memanjakan anak-anaknya tetapi akhiranya tidak mampu menanamkan sikap kemandirian. Sebenarnya pendidikan sederhana tentang kemandirian kepada anak dapat dilakukakn oleh orang tua dengan cara memberikan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Hal terpenting bahwa proses pendidikan kemandirian dapat berhasil manakala dapat terwujdnya transformasi pendelegasian tanggungjawab dari orang tua kepada anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar